BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Qur’an menurut bahasa adalah
“bacaan”. Adapun definisi Al-Quar’an adalah kalam Allah SWT. Yang merupakan
Mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW, dan membacanya
adalah ibadah. Dengan definisi ini maka kalam Allah yang diturunkan kepada
nabi-nabi selain nabi Muhammad SAW tidak dinamkan Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah kitab suci yang
diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai salah satu rahmatyang tidak
ada taranya bagi alam semesta. Didalamnya terkumpul wahyu illahi yang menjadi
petunjuk, pedoman, dan pelajaran bagi siapa yang mempercayainya serta
mengamalkanya. Bukan itu saja, tetapi juga Al-Qur’an itu adalah kitab suci
paling terakhir yang diturunkan Allah, yang isinya mencakup segala pokok-pokok
syariat yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya. Karena
itu, setiap orang yang mempercayai Al-Qur’an, akan bertambah cinta kepadanya,
cinta untuk membacanya, untuk mempelajari dan memahaminya serta pula umtuk
mengamalkan dan mengajarkanya.
Setiap mukmin yakin, bahwa membaca
Al-Qur’an termasuk amal yang sangat mulia dan akan mandapatkan pahala. Al-Qur’an
adalah sebaik-baik bacaan bagi orang mukmin, baik di kala senangmaupun dikala
susah dikala gembira ataupun dikala sedih, bahka membaca Alquran menjadi obat
dan penawar bagi orang yang gelisah jiwanya.
Setiap mukmin yang mempercayai
Al-Qur’an, mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap kitab sucinya itu.
Diantaranya tanggung jawab itu ialah mempelajarinya dan mengajarkanya. Belajar
dan mengajarkan Al-Qur’an adalah kewajiban suci dan mulia. Rasulullah SAW
bersabda “Yang sebaik baik kamu ialah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan
mengajarkanya”.
Kini kita hidup didunia yang
tanpa batas, di era globalisasi. Berbagai informasi baik itu diperlukan atau
tidak, buruk atau baik menghampiri rumah-rumah kita setiap saat tanpa dapat
dibendung. Banjir informasi yang sebagian besar tidak di perlukan ini bagi
sebagian kecil orang merupakan anugerah, namun bagi sebagian besar lainya lebih
sering berakibat buruk walaupun kadang kurang disadarinya.
Era informasi yang oleh Alvin
Tofler disebut dengan istilah gelombang ketiga “third wave” ini melanda seluruh
dunia. “Barang siapa yang menguasai informasi maka dia akan menguasai bumi” bukanlah
isapan jempol.
Sayangnya, yang menguasai
pusat-pusat informasi adalah mereka yang bermodal besar namun minim tanggung
jawab moral, sehingga program-program yang disuguhkan sebagian besar program
yang tidak mendidik bahkan cenderung merusak moral. Bagi mereka tidak masalah
apapun program yang disajikan selama itu disukai masyarakat dan mendatangkan
keuntungan yang banyak. Akibat selanjutnya adalah terjadinya dekadensi moral
melanda sebagian besar masyarakat. Pergaulan bebas, gaya hidup yang serba bebas,
obat obatan terlarang, minum-minuman keras, dan efek-efek negatif lainya.
Untuk mengantisipasi dampak
negatif media informasi yang merusak perlu adanya gerakan kembali kepada
Al-Qur’an dalam rangka menggali nilai-nilai Al-Qur’an sebagi perisai guna membentengi
diri dalam menghadapi budaya budaya yang merusak moral.
Belajar Al-Qur’an hendaknya
dilakukan dari semenjak dini sekitar 5 atau 6 tahun, sehingga ketika beranjak
remaja anak diharapkan familiar dengan bacaan-bacaan Al-Qur’an bahkan sudah
mampu menghafal surat-surat pendek.
Belajar Al-Qur’an dapat dibagi
kepada beberapa tingkatan, yaitu belajar membacanya sampai lancar dan baik,
menuruti qaedah-qaedah yang berlaku dan qiraat dan tajwid, belajar arti dan
maksudnya sampai mengerti akan maksud-maksud yang terkandung didalamnya dan
belajar menghafalnya diluar kepala.
Tidak dapat dipungkiri masih
terlalu banyak anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis Al-Qur’an dengan
berbagai alasan. Padahal Al-Qur’an merupakan rujukan utama bagi umat islam.
Bagaimana bisa menggali nilai-nilai Al-Qur’an dalam rangka membentengi diri
dalam menghadapi budaya-budaya yang merusak moral jika anak tidak dapat membaca
da menulis Al-Qur’an.
Berdasarkan uraian tersebut di
atas penulis tertarik untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul :
“Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca dan Menulis Al-Qur’an Siswa Dengan
Menggunakan Metode Demonstrasi di Kelas V MI PSM Sendang”.
1.2 Identifikasi Masalah
Bertolak dari latar belakang masalah
tersebut diatas, maka pokok-pokok masalah yang akan dibahas dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut :
1. Kemampuan siswa kelas V MI dalam
membaca Al-Qur’an kurang lancar
2. Kemampuan siswa kelas V MI dalam
menulis Al-Qur’an masih kurang
3. Penggunaan metode pembelajaran
masih terlalu sulit, sehingga presentasi yang dicapai masih rendah
1.3 Pembatasan dan Rumusan Masalah
1.3.1 Pembatasan Masalah
Agar pembahasan dalam penelitian ini
tidak terlalu meluas, maka penulis akan membatasinya pada : Penggunaan metode
demonstrasi dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an siswa
kelas V MI.
1.3.2 Rumusan Masalah
Masalah adalah pertanyaan-pertanyaan
yang sengaja diajukan untuk dicari jawabanya melalui penelitian, Sudjana N.
(1997:21). Menurut pendapat diatas masalah yaitu masalah-masalah yang sengaja
diajukan jawabnya diperoleh melalui penelitian. Berdasarka rumusan masalah
diatas, maka masalah penelitian ini adalah :
a) Apakah metode demonstrasi dapat
meningkatkan aktifitas siswa membaca dan menulis Al-Qur’an di kelas V MI ?
b) Apakah metode demonstrasi dapat
meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an siswa di MI ?
c) Apakah metode demonstrasi dapat
meningkatkan prestasi membaca dan menulis Al-Qur’an siswa di MI ?
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan
permasalahan di atas, maka tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai
berikut :
1.
Untuk
meningkatkan aktifitas belajar siswa dalam pembelajaran PAI aspek Al-Quran melalui
metode demonstrasi di MI
2.
Untuk
mengetahui efektifitas metode demonstrasi dalam meningkatkan kemampuan membaca
dan menulis siswa dalam pembelajaran PAI aspek Al-Qur’an
3.
Meningkatkan
prestasi belajar siswa dalam pembelajaran PAI aspek Al-Qur’an melalui metode
demonstrasi di MI
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tindakan kelas ini
diharapkan memberikan manfaat terhadap perbaikan kualitas pendidikan dan
pembelajaran, di antaranya :
1. Bagi siswa, dapat lebih
meningkatkan pemahaman dan penghayatan siswa, berani bertanya, mengemukakakan
pendapat dan dapat meningkatkan hasil belajar PAI aspek Al-Qur’an
2. Bagi guru, sebagai salah satu
alternatif dalam upaya meningkatkan hasil belajar PAI dengan metode
demonstrasi.
Berdasarkan uraian tersebut di
atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul :
Meningkatkan Kemampuan Membaca dan Menulis Al-Qur’an Siswa Melalui Metode Demonstrasi
di kelas 5 pada semester 2 di MI.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
2.1 Pengertian Membaca
Membaca adalah suatu proses yang
dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak
disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Suatu
proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan
terlihat dalam suatu pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara
individu akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang
tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses
membaca itu tidak terlaksana dengan baik (Hodson, 1960: 43-44).
Dari segi linguistik, membaca adalah
suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding
prosess), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan
penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah
menghubungkan kata-kata tulis (written word) yang mencakup pengubahan tulisan /
cetakan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan / cetakan
menjadi bunyi yang bermakna. (Andrson, 972 : 202-210).
2.2 Tujuan Membaca
Tujuan utama membaca adalah untuk
mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna,
arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita
dalam membaca.
2.3 Pengertian Menulis
Menulis dapat didefinisikan sebagai
suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis
sebagai alat atau medianya. Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam
suatu tulisan. Tulisan merupakan suatu simbol atau lambang bahasa yang dapat
dilihat dan disepakati pemakainya. Dengan demikian, dalam komunikasi tulis
paling tidak terdapat empat unsur yang terlibat : Penulis sebagai penyampai
pesan (penulis), pesan atau isi tulisan, saluran atau media berupa tulisan, dan
pembaca sebagai penerima pesan.
2.4 Manfaat Menulis
Adapun manfaat dari kegiatan menulis
ini di antaranya adalah sebagai berikut :
a) Meningkatkan kecerdasan
b) Mengembangkan daya inisiatif dan
kreatifitas
c) Menumbuhkan keberanian dan
d) Mendorong kemampuan dan kemauan
mengumpulkan informasi
2.5 Hakikat Belajar dan Mengajar
Berbicara tentang pendidikan selalu
berkenaan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasialan pendidikanpun
terkandung pada unsur manusianya. Adapun unsur manusia yang paling menentukan
berhasilnya pendidikan adalah pelaksana pendidikan, yaitu guru. Karena gurulah
yang secara langsung mempengaruhi, membina, mengembangkan, kemampuan siswa agar
menjadi manusia yang bertaqwa, cerdas dan terampil.
Agar proses belajar mengajar
berjalan dengan lancar maka guru harus menguasai bahan yang akan diajarkan dan
terampil pula dalam hal menyajikanya. Guru diharapkan dapat memilih dan
menggunakan metode-metode pembelajaran yang sesuai dengan pokok-pokok bahasan
atau sub pokok bahasan.
Adapun belajar adalah “Proses yang
ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil
proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk perubahan seperti
perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan,
kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu
yang belajar” (Sudjana, 1989:5).
Selanjutnya, “Mengajar adalah
bimbingan kegiatan siswa belajar. Mengajar adalah mengatur dan mengorganisasi
lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan
siswa melakukan kegiatan belajar mengajar.” (Sudjana, 1987:7)
2.6 Metode Demonstrasi
Metode adalah cara guru menyampaikan
materi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan. Depdiknas (2003) menurut
Syaepul Sagala (2005:210) metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses
terjadinya suatu peristiwa atau benda pada penampilan tingkah laku yang
dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami peserta didik secara nyata.
Yang dimaksud dengan metode
demonstrasi dalam belajar dan mengajar yaitu metode yang digunakan oleh seorang
guru atau orang luar yang sengaja didatangkan atau murid sekalipun untuk
mempertunjukkan gerakan-gerakan suatu proses dengan peraturan yang benar.
Menurut Sudirman (1991 : 113), demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan
meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses situasi atau benda
tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan yang sering
disertai dengan penjelasan lisan, metode ini baik digunakan untuk mendapatkan
gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses
mengatur sesuatu, membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, membandingkan
suatu cara dengan cara lain, untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.
Ada beberapa kelebihan dan
kekurangan dalam menggunakan metode demonstrasi :
a) Kelebihan
1.
Metode
ini dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih kongrit, dengan
demikian dapat menghindarkan verbalisme
2.
Siswa
diharapkan lebih mudah dalam memahami apa yang dipelajari
3.
Proses
pelajaran akan lebih menarik
4.
Siswa
dirancang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan dan
mencoba melakukanya sendiri
5.
Melalui
metode ini dapat sajikan materi pelajaran yang tidak mungkin atau kurang sesuai
dengan menggunakan metode lain
b) Kelemahanya
Kelemahan metode ini antara lain
:
1.
Metode
ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang dengan
hal itu, pelaksanaan demonstrasi tidak akan efektif
2.
Fasilitas
seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan
baik
3.
Demonstrasi
memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping sering memerlukan
waktu yang cukup panjang yang mungkin terpaksa mengambil waktu jam pelajaran
lain.
2.7 Cara Pelaksanaan
Untuk menggunakan metode demonstrasi
dengan baik, beberapa langkah perlu ditempuh antara lain :
1. Penentuan tujuan demonstrasi yang
akan dilakukan. Dalam hal ini pertimbangan apakah tujuan yang akan dicapai
dengan belajar melalui demonstrasi itu tepat dengan menggunakan metode
demonstrasi.
2. Materi yang akan didemonstrasikan
terutama hal-hal yang penting ingin ditonjolkan.
3. Siapkan fasilitas penunjang
demonstrasi seperti peralatan, tempat, dan mungkin juga biaya yang dibutuhkan.
4. Penataan peralatan dan kelas pada
posisi yang baik.
5. Pertimbangkan jumlah siswa yang
dihubungkan dengan hal yang akan didemonstrasikan agar siswa dapat melihatnya
dengan jelas.
6. Buatlah garis besar lahkah atau pokok-pokok yang akan
didemonstrasikan secara berurutan dari tertulis pada papan tulis atau pada
kertas lembar agar dapat dibaca siswa dan gurunya secara keseluruhan untuk
menghindari kegagalan dalam pelaksanaan, sebaiknya demonstrasi yang
direncanakan dicoba terlebih dahulu. Tak jarang demonstrasi gagal hanya karena
hal kecil seperti kabel listrik yang kurang panjang, penerangan lampu yang
kurang terang, atau penempatan peralatan yang kurang strategis.
2.8 Pelaksanaan Demonstrasi
Setelah segala sesuatu direncanakan
dan disiapkan, langkah berikutnya ialah mulai melaksanakan demonstrasi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :
1. Sebelum memulai, periksalah
sekali lagi kesiapan peralatan yang akan didemonstrasikan, pengaturan tempat,
keterangan tentang garis besar langkah dan pokok-pokok yang akan
didemonstrasikan
2. Siapkan siswa, barangkali ada hal
yang perlu mereka catat
3. Mulailah demonstrasi dengan
menarik perhatian siswa
4. Ingatlah pokok-pokok materi yang
didemonstrasikan agar demonstrasi mencapai sasaran.
5. Pada awaktu berjalanya
demonstrasi, sekali-kali perhatikan keadaan, apakah semua mengikuti dengan baik
6. Untuk menghindarkan ketegangan,
ciptakan suasana yang harmonis
7. Berikanlah kesempatan kepada
siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut tentang apa yang dilihat dan
didengarkan dalam bentuk pertanyaan, membandingkanya dengan yang lain serta
mencoba melakukanya sendiri dengan bimbingan guru
BAB
III
METODE
PENELITIAN
3.1 Waktu penelitian dan Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini
dilaksanakan selama 3 Hari, yaitu dari 24 April s/d 26 April 2018. Tempat penelitian
ini dilakukan di MI PSM Ds.Sendang Kec.Banyakan Kab.Kediri, penelitian adalah
siswa kelas V yang berjumlah 38 orang.
3.2 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode deskriptif karena dalam pelaksanaanya tidak
terbatas pada pengumpulan data, melainkan dilakukan dengan pengolahan data
yaitu dengan cara mengumpulkan data, menyusun, mengolah dan menginterpretasikan
data.
3.3 Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian
tindakan kelas, adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam tindakan kelas ini
menggunakan model yang digunakan oleh Kurt Lewin. Tahapan-tahapan penelitian
tindakan kelas ini dibagi menjadi 4 tahapan yaitu :
1. Perencanaan (planning)
2. Aksi atau tindakan (acting)
3. Observasi (observing)
4. Refleksi (reflecting)
1.
Perencanaan meliputi aktifitas sebagai berikut :
a) Mendiskusikan dan menetapkan
rancangan pembelajaran yang akan diterapkan sebagai tindakan
b) Menyusun rencana pembelajaran
dengan menggunakan metode demonstrasi sesuai materi yang telah ditetapkan
c) Mengembangkan skenario pembelajaran
d) Mengembangkan format observasi
dan format evaluasi
2.
Pelaksanaan
Kegiatan yang dilaksanakan pada
tahap ini adalah melaksanakan sekenario pembelajaran yang telah direncanakan,
melaksanakan evaluasi dalam bentuk tes.
3.
Pengamatan
Pada tahap ini dilaksanakan
pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi
yang disiapkan.
4.
Refleksi
a) Melakukan evaluasi tindakan yang
telah dilakukan pada skenario pembelajaran
b) Melakukan pertemuan untuk
membahas hasil evaluasi tentang skenario, tes kemampuan pemahaman dan lain-lain
c) Memperbaiki pelaksanaan tindakan
sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada pertemuan berikutnya
Tahap pelaksanaan ini terus
dilakukan secara berulang dan berkesinambungan
3.4 Indikator Keberhasilan
Yang menjadi indikator keberhasilan
penelitian ini adalah :
a) Instrumen-instrumen yang telah disiapkan
dapat dilaksanakan dengan baik
b) Aktifitas siswa dalam belajar
meningkat
c) Lebih dari 70% siswa yang
mendapat nilai 65 ke atas
3.5 Teknik Pengumpulan Data
1. Data
Sumber data pada penelitian ini
seluruh siswa, sedangkan data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif dan
kualitatif. Data yang dikumpulkan meliputi :
a)
Data
tes kemampuan
b)
Data
observasi pada waktu proses pembelajaran
c)
Jurnal
harian (catatan harian)
d)
Foto,
diambil pada waktu proses pembelajaran
2. Teknik pengumpulan data
Data yang dikumpulkan diperoleh
melalui observasi, tes kemampuan pemahaman dan catatan harian.
3. Observasi
Observasi dilakukan untuk
memperoleh informasi kegiatan aktifitas siswa selama proses pembelajaran
berlangsung. Di dalam observasi pengamatan, kita akan memperoleh masukantentang
aktifitas siswa, cara belajar, kerjasama antar siswa dan sebagainya.
4. Jurnal harian
Jurnal harian semacam catatan
harian yang dikumpulkan selama proses pembelajaran baik itu aktifitas maupun
kegiatan guru di dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.
5. Data tes kemampuan pemahaman
Data ini diambil dari pertemuan
pertama maupun pertemuan kedua, ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan
hasil selama kegiatan dilakukan dan menggunakan data kuantitatif.
6. Foto
Foto digunakan untuk melengkapi
informasi data agar peristiwa yang terjadi dalam kegiatan penelitian dapat
direkam dan dijadikan sebagai alat bukti dalam pengumpulan data.
3.6 Analisis Data
a)
Data
observasi
Data
tes observasi ini diambil dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti
selama kegiatan belajar dengan menggunakan ceklis kemudian dipersentasikan.
b)
Data
tes kemampuan
Data
tes ini untuk menemukan nilai setiap siswa dari hasil tes dengan skala nilai
100 untuk menemukan banyaknya siswa yang mendapatkan nilai 65 ke atas.
BAB
IV
KESIMPULAN
DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari uraian tersebut diatas penulis
dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pembelajaran membaca dan menulis
Al-Qur’an dengan menggunakan metode demonstrasi dapat membuat pengajaran lebih
aktraktif dan kelas tampak lebih hidup, sehingga siswa lebih dapatcmemahami apa
yang dipelajari.
2. Pembelajaran dengan menggunakan
metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman dan meningkatkan aktifitas
siswa, hal ini dapat dibuktikan dari hasil perbedaan nilai rata-rata pretes dan
postes.
4.2 Saran
Untuk keberhasilan dalam
pembelajaran ini penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut :
1. Guru hendaknya mengkondisikan kelas
sebelum memulai pelajaran.
2. Selama proses pembelajaran guru
hendaknya mampu membangkitkan motivasi dan aktifitas siswa dengan memilih
metode dan teknik yang tepat.
3. Dalam proses belajar mengajar
guru hendaknya dapat menciptakan kondisi kelas yang menyenangkan sehingga
interaksi antara guru dan murid berjalan harmonis, merangsang siswa untuk
bertanya dan menyatakan pendapatnya.
4. Pada saat memberikan bahan
pengajaran guru hendaknya tidak terpaku pada buku paket saja, tetapi hendaknya
menggali bahan pengajaran dari pengalaman siswa atau buku lain yang berkaitan dengan
bahan yang akan diajarkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Henry
Guntur Tarigan (1979). Membaca Sebagai
Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa
Suparno
dan Muhamad Yunus. (2006). Keterampilan
Dasar Menulis. Jakarta : Universitas Terbuka
Sujana
N. (1995) Tuntunan Penyusunan Karya
Ilmiah. Bandung : Sinar Baru
Suhardjono,
Azis Hoesein, dkk. (1996). Pedoman
Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit
Pengembangan Profesi Widyaiswara. Jakarta : Depdikbud, Dikdasmen.
Suhardjono
(2006). Laporan Penelitian sebagai KTI,
makalah pada pelatihan peningkatan mutu guru dalam pengembangan profesi di
Pusdiklat Diknas Sawangan, Jakarta, Februari 2006.
Suharsimi
Arikunto, Suhardjono dan Supardi (2006) Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Tim
Bina Karya Guru (2004) Pendidikan Agama
Islam untuk SD kelas V. Penerbit : Erlangga.
Foto pembelajaran di kelas :







EmoticonEmoticon