PTK

Penelitian

RPP

Recent Posts

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DAN MENULIS AL-QUR’AN SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DI KELAS V MI PSM SENDANG BANYAKAN KEDIRI



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang Masalah
            Qur’an menurut bahasa adalah “bacaan”. Adapun definisi Al-Quar’an adalah kalam Allah SWT. Yang merupakan Mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW, dan membacanya adalah ibadah. Dengan definisi ini maka kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain nabi Muhammad SAW tidak dinamkan Al-Qur’an.
            Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai salah satu rahmatyang tidak ada taranya bagi alam semesta. Didalamnya terkumpul wahyu illahi yang menjadi petunjuk, pedoman, dan pelajaran bagi siapa yang mempercayainya serta mengamalkanya. Bukan itu saja, tetapi juga Al-Qur’an itu adalah kitab suci paling terakhir yang diturunkan Allah, yang isinya mencakup segala pokok-pokok syariat yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya. Karena itu, setiap orang yang mempercayai Al-Qur’an, akan bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, untuk mempelajari dan memahaminya serta pula umtuk mengamalkan dan mengajarkanya.
Setiap mukmin yakin, bahwa membaca Al-Qur’an termasuk amal yang sangat mulia dan akan mandapatkan pahala. Al-Qur’an adalah sebaik-baik bacaan bagi orang mukmin, baik di kala senangmaupun dikala susah dikala gembira ataupun dikala sedih, bahka membaca Alquran menjadi obat dan penawar bagi orang yang gelisah jiwanya.
Setiap mukmin yang mempercayai Al-Qur’an, mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap kitab sucinya itu. Diantaranya tanggung jawab itu ialah mempelajarinya dan mengajarkanya. Belajar dan mengajarkan Al-Qur’an adalah kewajiban suci dan mulia. Rasulullah SAW bersabda “Yang sebaik baik kamu ialah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkanya”.
Kini kita hidup didunia yang tanpa batas, di era globalisasi. Berbagai informasi baik itu diperlukan atau tidak, buruk atau baik menghampiri rumah-rumah kita setiap saat tanpa dapat dibendung. Banjir informasi yang sebagian besar tidak di perlukan ini bagi sebagian kecil orang merupakan anugerah, namun bagi sebagian besar lainya lebih sering berakibat buruk walaupun kadang kurang disadarinya.
Era informasi yang oleh Alvin Tofler disebut dengan istilah gelombang ketiga “third wave” ini melanda seluruh dunia. “Barang siapa yang menguasai informasi maka dia akan menguasai bumi” bukanlah isapan jempol.
Sayangnya, yang menguasai pusat-pusat informasi adalah mereka yang bermodal besar namun minim tanggung jawab moral, sehingga program-program yang disuguhkan sebagian besar program yang tidak mendidik bahkan cenderung merusak moral. Bagi mereka tidak masalah apapun program yang disajikan selama itu disukai masyarakat dan mendatangkan keuntungan yang banyak. Akibat selanjutnya adalah terjadinya dekadensi moral melanda sebagian besar masyarakat. Pergaulan bebas, gaya hidup yang serba bebas, obat obatan terlarang, minum-minuman keras, dan efek-efek negatif lainya.
Untuk mengantisipasi dampak negatif media informasi yang merusak perlu adanya gerakan kembali kepada Al-Qur’an dalam rangka menggali nilai-nilai Al-Qur’an sebagi perisai guna membentengi diri dalam menghadapi budaya budaya yang merusak moral.
Belajar Al-Qur’an hendaknya dilakukan dari semenjak dini sekitar 5 atau 6 tahun, sehingga ketika beranjak remaja anak diharapkan familiar dengan bacaan-bacaan Al-Qur’an bahkan sudah mampu menghafal surat-surat pendek.
Belajar Al-Qur’an dapat dibagi kepada beberapa tingkatan, yaitu belajar membacanya sampai lancar dan baik, menuruti qaedah-qaedah yang berlaku dan qiraat dan tajwid, belajar arti dan maksudnya sampai mengerti akan maksud-maksud yang terkandung didalamnya dan belajar menghafalnya diluar kepala.
Tidak dapat dipungkiri masih terlalu banyak anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis Al-Qur’an dengan berbagai alasan. Padahal Al-Qur’an merupakan rujukan utama bagi umat islam. Bagaimana bisa menggali nilai-nilai Al-Qur’an dalam rangka membentengi diri dalam menghadapi budaya-budaya yang merusak moral jika anak tidak dapat membaca da menulis Al-Qur’an.
Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis tertarik untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul : “Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca dan Menulis Al-Qur’an Siswa Dengan Menggunakan Metode Demonstrasi di Kelas V MI PSM Sendang”.

1.2       Identifikasi Masalah
            Bertolak dari latar belakang masalah tersebut diatas, maka pokok-pokok masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Kemampuan siswa kelas V MI dalam membaca Al-Qur’an kurang lancar
2.      Kemampuan siswa kelas V MI dalam menulis Al-Qur’an masih kurang
3.      Penggunaan metode pembelajaran masih terlalu sulit, sehingga presentasi yang dicapai masih rendah

1.3       Pembatasan dan Rumusan Masalah
1.3.1    Pembatasan Masalah
            Agar pembahasan dalam penelitian ini tidak terlalu meluas, maka penulis akan membatasinya pada : Penggunaan metode demonstrasi dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an siswa kelas V MI.

1.3.2    Rumusan Masalah
            Masalah adalah pertanyaan-pertanyaan yang sengaja diajukan untuk dicari jawabanya melalui penelitian, Sudjana N. (1997:21). Menurut pendapat diatas masalah yaitu masalah-masalah yang sengaja diajukan jawabnya diperoleh melalui penelitian. Berdasarka rumusan masalah diatas, maka masalah penelitian ini adalah :
a)      Apakah metode demonstrasi dapat meningkatkan aktifitas siswa membaca dan menulis Al-Qur’an di kelas V MI ?
b)      Apakah metode demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an siswa di MI ?
c)      Apakah metode demonstrasi dapat meningkatkan prestasi membaca dan menulis Al-Qur’an siswa di MI ?

1.4       Tujuan Penelitian
      Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk meningkatkan aktifitas belajar siswa dalam pembelajaran PAI aspek Al-Quran melalui metode demonstrasi di MI
2.      Untuk mengetahui efektifitas metode demonstrasi dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa dalam pembelajaran PAI aspek Al-Qur’an
3.      Meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran PAI aspek Al-Qur’an melalui metode demonstrasi di MI

1.5       Manfaat Penelitian
            Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan memberikan manfaat terhadap perbaikan kualitas pendidikan dan pembelajaran, di antaranya :
1.      Bagi siswa, dapat lebih meningkatkan pemahaman dan penghayatan siswa, berani bertanya, mengemukakakan pendapat dan dapat meningkatkan hasil belajar PAI aspek Al-Qur’an
2.      Bagi guru, sebagai salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan hasil belajar PAI dengan metode demonstrasi.
Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul : Meningkatkan Kemampuan Membaca dan Menulis Al-Qur’an Siswa Melalui Metode Demonstrasi di kelas 5 pada semester 2 di MI.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1       Pengertian Membaca
            Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individu akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik (Hodson, 1960: 43-44).
            Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding prosess), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis (written word) yang mencakup pengubahan tulisan / cetakan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan / cetakan menjadi bunyi yang bermakna. (Andrson, 972 : 202-210).

2.2       Tujuan Membaca
            Tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca.

2.3       Pengertian Menulis
            Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan. Tulisan merupakan suatu simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakainya. Dengan demikian, dalam komunikasi tulis paling tidak terdapat empat unsur yang terlibat : Penulis sebagai penyampai pesan (penulis), pesan atau isi tulisan, saluran atau media berupa tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan.

2.4       Manfaat Menulis
            Adapun manfaat dari kegiatan menulis ini di antaranya adalah sebagai berikut :
a)      Meningkatkan kecerdasan
b)      Mengembangkan daya inisiatif dan kreatifitas
c)      Menumbuhkan keberanian dan
d)      Mendorong kemampuan dan kemauan mengumpulkan informasi



2.5       Hakikat Belajar dan Mengajar
            Berbicara tentang pendidikan selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasialan pendidikanpun terkandung pada unsur manusianya. Adapun unsur manusia yang paling menentukan berhasilnya pendidikan adalah pelaksana pendidikan, yaitu guru. Karena gurulah yang secara langsung mempengaruhi, membina, mengembangkan, kemampuan siswa agar menjadi manusia yang bertaqwa, cerdas dan terampil.
            Agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar maka guru harus menguasai bahan yang akan diajarkan dan terampil pula dalam hal menyajikanya. Guru diharapkan dapat memilih dan menggunakan metode-metode pembelajaran yang sesuai dengan pokok-pokok bahasan atau sub pokok bahasan.
            Adapun belajar adalah “Proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk perubahan seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar” (Sudjana, 1989:5).
            Selanjutnya, “Mengajar adalah bimbingan kegiatan siswa belajar. Mengajar adalah mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar mengajar.” (Sudjana, 1987:7)

2.6       Metode Demonstrasi
            Metode adalah cara guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan. Depdiknas (2003) menurut Syaepul Sagala (2005:210) metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami peserta didik secara nyata.
            Yang dimaksud dengan metode demonstrasi dalam belajar dan mengajar yaitu metode yang digunakan oleh seorang guru atau orang luar yang sengaja didatangkan atau murid sekalipun untuk mempertunjukkan gerakan-gerakan suatu proses dengan peraturan yang benar. Menurut Sudirman (1991 : 113), demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan yang sering disertai dengan penjelasan lisan, metode ini baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.
            Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam menggunakan metode demonstrasi :
a)      Kelebihan
1.      Metode ini dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih kongrit, dengan demikian dapat menghindarkan verbalisme
2.      Siswa diharapkan lebih mudah dalam memahami apa yang dipelajari
3.      Proses pelajaran akan lebih menarik
4.      Siswa dirancang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan dan mencoba melakukanya sendiri
5.      Melalui metode ini dapat sajikan materi pelajaran yang tidak mungkin atau kurang sesuai dengan menggunakan metode lain

b)      Kelemahanya
Kelemahan metode ini antara lain :
1.      Metode ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang dengan hal itu, pelaksanaan demonstrasi tidak akan efektif
2.      Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik
3.      Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping sering memerlukan waktu yang cukup panjang yang mungkin terpaksa mengambil waktu jam pelajaran lain.

2.7       Cara Pelaksanaan
            Untuk menggunakan metode demonstrasi dengan baik, beberapa langkah perlu ditempuh antara lain :
1.      Penentuan tujuan demonstrasi yang akan dilakukan. Dalam hal ini pertimbangan apakah tujuan yang akan dicapai dengan belajar melalui demonstrasi itu tepat dengan menggunakan metode demonstrasi.
2.      Materi yang akan didemonstrasikan terutama hal-hal yang penting ingin ditonjolkan.
3.      Siapkan fasilitas penunjang demonstrasi seperti peralatan, tempat, dan mungkin juga biaya yang dibutuhkan.
4.      Penataan peralatan dan kelas pada posisi yang baik.
5.      Pertimbangkan jumlah siswa yang dihubungkan dengan hal yang akan didemonstrasikan agar siswa dapat melihatnya dengan jelas.
6.      Buatlah garis besar  lahkah atau pokok-pokok yang akan didemonstrasikan secara berurutan dari tertulis pada papan tulis atau pada kertas lembar agar dapat dibaca siswa dan gurunya secara keseluruhan untuk menghindari kegagalan dalam pelaksanaan, sebaiknya demonstrasi yang direncanakan dicoba terlebih dahulu. Tak jarang demonstrasi gagal hanya karena hal kecil seperti kabel listrik yang kurang panjang, penerangan lampu yang kurang terang, atau penempatan peralatan yang kurang strategis.

2.8       Pelaksanaan Demonstrasi
            Setelah segala sesuatu direncanakan dan disiapkan, langkah berikutnya ialah mulai melaksanakan demonstrasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :
1.      Sebelum memulai, periksalah sekali lagi kesiapan peralatan yang akan didemonstrasikan, pengaturan tempat, keterangan tentang garis besar langkah dan pokok-pokok yang akan didemonstrasikan
2.      Siapkan siswa, barangkali ada hal yang perlu mereka catat
3.      Mulailah demonstrasi dengan menarik perhatian siswa
4.      Ingatlah pokok-pokok materi yang didemonstrasikan agar demonstrasi mencapai sasaran.
5.      Pada awaktu berjalanya demonstrasi, sekali-kali perhatikan keadaan, apakah semua mengikuti dengan baik
6.      Untuk menghindarkan ketegangan, ciptakan suasana yang harmonis
7.      Berikanlah kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut tentang apa yang dilihat dan didengarkan dalam bentuk pertanyaan, membandingkanya dengan yang lain serta mencoba melakukanya sendiri dengan bimbingan guru


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1       Waktu penelitian dan Tempat Penelitian
            Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan selama 3 Hari, yaitu dari 24 April s/d 26 April 2018. Tempat penelitian ini dilakukan di MI PSM Ds.Sendang Kec.Banyakan Kab.Kediri, penelitian adalah siswa kelas V yang berjumlah 38 orang.

3.2       Metode Penelitian
            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif karena dalam pelaksanaanya tidak terbatas pada pengumpulan data, melainkan dilakukan dengan pengolahan data yaitu dengan cara mengumpulkan data, menyusun, mengolah dan menginterpretasikan data.

3.3       Prosedur Penelitian
            Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam tindakan kelas ini menggunakan model yang digunakan oleh Kurt Lewin. Tahapan-tahapan penelitian tindakan kelas ini dibagi menjadi 4 tahapan yaitu :
1.      Perencanaan (planning)
2.      Aksi atau tindakan (acting)
3.      Observasi (observing)
4.      Refleksi (reflecting)
1. Perencanaan meliputi aktifitas sebagai berikut :
a)      Mendiskusikan dan menetapkan rancangan pembelajaran yang akan diterapkan sebagai tindakan
b)      Menyusun rencana pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi sesuai materi yang telah ditetapkan
c)      Mengembangkan skenario pembelajaran
d)      Mengembangkan format observasi dan format evaluasi
2. Pelaksanaan
            Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan sekenario pembelajaran yang telah direncanakan, melaksanakan evaluasi dalam bentuk tes.
3. Pengamatan
            Pada tahap ini dilaksanakan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang disiapkan.

4. Refleksi
a)      Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan pada skenario pembelajaran
b)      Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario, tes kemampuan pemahaman dan lain-lain
c)      Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada pertemuan berikutnya
Tahap pelaksanaan ini terus dilakukan secara berulang dan berkesinambungan

3.4       Indikator Keberhasilan
            Yang menjadi indikator keberhasilan penelitian ini adalah :
a)      Instrumen-instrumen yang telah disiapkan dapat dilaksanakan dengan baik
b)      Aktifitas siswa dalam belajar meningkat
c)      Lebih dari 70% siswa yang mendapat nilai 65 ke atas

3.5       Teknik Pengumpulan Data
1.      Data
Sumber data pada penelitian ini seluruh siswa, sedangkan data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data yang dikumpulkan meliputi :
a)      Data tes kemampuan
b)      Data observasi pada waktu proses pembelajaran
c)      Jurnal harian (catatan harian)
d)      Foto, diambil pada waktu proses pembelajaran
2.      Teknik pengumpulan data
Data yang dikumpulkan diperoleh melalui observasi, tes kemampuan pemahaman dan catatan harian.
3.      Observasi
Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi kegiatan aktifitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Di dalam observasi pengamatan, kita akan memperoleh masukantentang aktifitas siswa, cara belajar, kerjasama antar siswa dan sebagainya.
4.      Jurnal harian
Jurnal harian semacam catatan harian yang dikumpulkan selama proses pembelajaran baik itu aktifitas maupun kegiatan guru di dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.
5.      Data tes kemampuan pemahaman
Data ini diambil dari pertemuan pertama maupun pertemuan kedua, ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan hasil selama kegiatan dilakukan dan menggunakan data kuantitatif.
6.      Foto
Foto digunakan untuk melengkapi informasi data agar peristiwa yang terjadi dalam kegiatan penelitian dapat direkam dan dijadikan sebagai alat bukti dalam pengumpulan data.




3.6       Analisis Data
a)      Data observasi
Data tes observasi ini diambil dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti selama kegiatan belajar dengan menggunakan ceklis kemudian dipersentasikan.
b)      Data tes kemampuan
Data tes ini untuk menemukan nilai setiap siswa dari hasil tes dengan skala nilai 100 untuk menemukan banyaknya siswa yang mendapatkan nilai 65 ke atas.


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1       Kesimpulan
            Dari uraian tersebut diatas penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Pembelajaran membaca dan menulis Al-Qur’an dengan menggunakan metode demonstrasi dapat membuat pengajaran lebih aktraktif dan kelas tampak lebih hidup, sehingga siswa lebih dapatcmemahami apa yang dipelajari.
2.      Pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman dan meningkatkan aktifitas siswa, hal ini dapat dibuktikan dari hasil perbedaan nilai rata-rata pretes dan postes.
4.2       Saran
            Untuk keberhasilan dalam pembelajaran ini penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut :
1.      Guru hendaknya mengkondisikan kelas sebelum memulai pelajaran.
2.      Selama proses pembelajaran guru hendaknya mampu membangkitkan motivasi dan aktifitas siswa dengan memilih metode dan teknik yang tepat.
3.      Dalam proses belajar mengajar guru hendaknya dapat menciptakan kondisi kelas yang menyenangkan sehingga interaksi antara guru dan murid berjalan harmonis, merangsang siswa untuk bertanya dan menyatakan pendapatnya.
4.      Pada saat memberikan bahan pengajaran guru hendaknya tidak terpaku pada buku paket saja, tetapi hendaknya menggali bahan pengajaran dari pengalaman siswa atau buku lain yang berkaitan dengan bahan yang akan diajarkan.


DAFTAR PUSTAKA

Henry Guntur Tarigan (1979). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa
Suparno dan Muhamad Yunus. (2006). Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta : Universitas Terbuka 
Sujana N. (1995) Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung : Sinar Baru
Suhardjono, Azis Hoesein, dkk. (1996). Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Widyaiswara. Jakarta : Depdikbud, Dikdasmen.
Suhardjono (2006). Laporan Penelitian sebagai KTI, makalah pada pelatihan peningkatan mutu guru dalam pengembangan profesi di Pusdiklat Diknas Sawangan, Jakarta, Februari 2006.
Suharsimi Arikunto, Suhardjono dan Supardi (2006) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Tim Bina Karya Guru (2004) Pendidikan Agama Islam untuk SD kelas V. Penerbit : Erlangga.


Foto pembelajaran di kelas :